Jakarta – Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) mengajak para ayah di seluruh Indonesia untuk terlibat aktif mengantar anak pada hari pertama sekolah melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS). Gerakan ini diharapkan menjadi simbol kehadiran ayah dalam pengasuhan sekaligus memperkuat budaya pengasuhan kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045.
Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN, Nopian Andusti, mengatakan bahwa GAMAS bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia yang mendorong ayah hadir secara aktif dalam kehidupan anak.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa mengantar anak ke sekolah bukan hanya aktivitas rutin, tetapi simbol kepedulian, dukungan moral, dan keterlibatan ayah dalam setiap fase tumbuh kembang anak,” ujar Nopian dalam Sosialisasi Implementasi Gerakan Ayah Teladan Indonesia melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah, di Jakarta, Selasa (7/6/2026).
Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang membentuk karakter, nilai kehidupan, kesehatan mental, serta kualitas sumber daya manusia. Dari keluarga, anak belajar tentang kasih sayang, tanggung jawab, disiplin, empati, dan berbagai nilai yang akan membentuk kepribadiannya hingga dewasa.
Dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga sehat, tangguh, berkarakter, dan memiliki ketahanan sosial yang kuat. Karena itu, kualitas pengasuhan menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan.
Nopian mengungkapkan, berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2025, sekitar 25,8 persen keluarga Indonesia atau satu dari empat keluarga mengalami kondisi fatherless, yakni ketika figur ayah tidak hadir secara optimal dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun emosional.
“Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional, kepercayaan diri, kesehatan mental, prestasi pendidikan, kemampuan sosial, hingga pembentukan karakter anak,” jelasnya.
Ia menambahkan, tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi. Anak menghadapi paparan media sosial, tekanan akademik, risiko perundungan siber, hingga persoalan kesehatan mental. Sebagian keluarga juga menghadapi tantangan dalam mendampingi anak penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus.
Dalam situasi tersebut, kehadiran ayah dan ibu secara seimbang menjadi semakin penting. Anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga kehadiran orang tua yang mendengarkan, memahami, mendampingi, serta memberikan rasa aman.
Komitmen tersebut diperkuat melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor Anak di Sekolah (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS).
Nopian menjelaskan, apabila GEMAR mendorong keterlibatan ayah saat menerima hasil belajar anak, maka GAMAS menekankan kehadiran ayah pada momentum awal anak memasuki tahun ajaran baru.
“Hari pertama sekolah merupakan momentum penting ketika anak kembali beradaptasi dengan lingkungan belajar, guru, dan teman-temannya. Kehadiran ayah pada saat itu memberikan dukungan emosional yang sangat berarti sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan anak merupakan prioritas dalam keluarga,” katanya.
Ia menegaskan, keberhasilan GAMAS membutuhkan dukungan seluruh pihak, mulai dari kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, satuan pendidikan, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, perguruan tinggi, media massa, hingga mitra pembangunan untuk menciptakan lingkungan yang ramah keluarga.
Selain itu, penyuluh keluarga berencana, petugas lapangan keluarga berencana, dan kader pendamping keluarga diharapkan terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya pengasuhan yang dilakukan bersama oleh ayah dan ibu secara seimbang.
Nopian mengajak seluruh ayah menjadikan GAMAS sebagai awal membangun kebiasaan baru dalam pengasuhan. “Mengantar anak ke sekolah mungkin hanya membutuhkan waktu yang singkat, tetapi dampaknya dapat menjadi sangat besar bagi perkembangan anak dan ketahanan keluarga. Mari jadikan GAMAS sebagai gerakan sosial yang memperkuat budaya pengasuhan bersama di Indonesia,” ujarnya.
Nopian juga berpesan kepada seluruh ayah maupun calon ayah agar tidak membiarkan kesibukan mengurangi kehadiran mereka di tengah keluarga.
“Rutinitas boleh padat, pekerjaan boleh menumpuk, tetapi peran ayah tidak pernah bisa tergantikan. Ayah teladan bukan ayah yang sempurna, melainkan ayah yang berkomitmen hadir sepenuhnya bagi keluarga. Waktu tidak bisa diputar kembali, dan kesempatan tidak selalu datang dua kali. Karena itu, ayah wajib hadir,” pungkasnya. (Red)



















