‎Oleh ; Aan Ade Putra
‎Tokoh pemuda dan Pemerhati Politik

‎Lebong, – Judul ini lahir dari kegelisahan yang kian menggebu-gebu: jurang antara harapan rakyat dan realitas kehidupan sehari-hari terasa semakin miris,diambil dari hal yang pangling sederhana, tunjangan pegawai puskesmas hampir ditiadakan,tunjangan profesi guru sampai detik ini masih ada yang belum tersalurkan,kendaraan dinas rusak dimana-mana,padahal mereka garda terdepan membangun Negeri ini.

‎Di atas tanah yang subur,dikelilingi hutan TNKS, dan kaya sumber daya alam emas,potensi panas bumi,batu bara, energi listrik dan potensi wisata.
‎Akan tetapi masih banyak saudara kita yang harus berjuang keras melawan jeratan kemiskinan, menahan beban biaya hidup yang terus melonjak, pengangguran, sulit mendapatkan pekerjaan, serta merasakan pahitnya ketidakpastian hukum yang kerap munculkan .

‎Pertanyaan ; di mana letak keadilan sejati ?

‎Akses terhadap pendidikan yang layak ,kebutuhan sekolah swasta , pelayanan kesehatan yang terjangkau, dan hak atas lahan persawahan masyarakat yang terdampak bencana susulan,sebagian daerah kesulitan mendapatkan air bersih yang layak , data penerima bansos yang semrawut,data pekerja fiktif jasa keamanan dan kebersihan dan jaminan kesejahteraan belum dirasakan secara adil oleh seluruh lapisan masyarakat .

‎Di sisi lain, kasus korupsi terus terungkap ke permukaan, suap-menyuap kian melebar,bahkan isu tukar guling jabatan kepala sekolah seperti tidak asing lagi ditelinga, namun seolah tak pernah memberikan efek jera yang nyata.peran penegak hukum dipertanyakan, wakil rakyat sibuk dimeja sidang, Situasi ini memaksa publik untuk bertanya, ke mana arah pembangunan negeri ini?

‎Lebih lanjut, Apakah mereka yang duduk dengan jabatannya masih berpihak pada nasib rakyat? Di tengah kegelisahan itu, satu pertanyaan semakin sering bergema di ruang-ruang diskusi: sampai kapan rakyat harus terus bersabar? Sampai kapan kekayaan alam ini dicuri,sampaikapan jalan rusak ini diperbaiki,sampai kapan hak warga miskin ditepati.

‎Demokrasi seharusnya membuka seluas-luasnya ruang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi, baik melalui dialog konstruktif, partisipasi dalam proses politik, maupun penyampaian pendapat secara damai.

‎Namun, ketika saluran-saluran formal itu dianggap tak lagi mampu menampung suara dan memperjuangkan kepentingan masyarakat, corong pemberitaan tidak lagi dihiraukan, peran organisasi masyarakat seperti mati suri, hal wajar kalau jalanan sering kali berubah menjadi rumah terakhir yang tersisa untuk menyampaikan tuntutan perubahan.

‎“Haruskah rakyat kembali ke jalan?” bukanlah ajakan untuk menciptakan kekacauan atau kegaduhan. Melaikan cerminan jujur atas kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang sedang melanda daerah ini.

‎Sejarah mencatat, banyak perubahan besar dan perbaikan yang berarti lahir dari keberanian rakyat untuk bersuara, memperjuangkan apa yang menjadi haknya.

‎Perlu dipahami, ibu pertiwi tidak menangis karena rakyat berani berbicara. Ibu Pertiwi meneteskan air mata ketika keadilan semakin sulit ditemukan, ketimpangan dimana- mana,dan ketika janji tak kunjung menjadi kenyataan, dan ketika suara rakyat perlahan kehilangan tempatnya dalam setiap keputusan yang diambil.( Red/Arahan)

‎Writer ; Kaperwil Bkl