Menteri ESDM: Kesepakatan Dagang dengan AS Tidak Menambah Impor Energi

Manuver.co.id, Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan,  kesepakatan perdagangan energi antara Indonesia dan Amerika Serikat senilai 15 miliar dolar AS tidak akan menambah kuota impor energi nasional, melainkan hanya mengalihkan sumber impor dari negara lain ke Amerika Serikat.

Hal itu disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, seperti dilansir laman Kementerian ESDM, Senin (2/3/2026). “Untuk kebutuhan LPG kita setiap tahun sebesar 8,3 juta ton, sementara produksi nasional kita 1,6 juta sehingga per tahun kita mengimpor 7 juta ton. Yang kedua BBM dan ketiga crude (minyak mentah), inilah yang kita konsensuskan kemarin di Amerika untuk belanja 15 miliar dolar AS,” ujar Bahlil.

Menurut Bahlil, kebutuhan energi Indonesia, terutama Liquefied Petroleum Gas (LPG), Bahan Bakar Minyak (BBM), dan minyak mentah, masih bergantung pada impor karena produksi dalam negeri belum mencukupi. Namun, kesepakatan dengan AS tidak mengubah total volume impor, hanya memindahkan negara asal pemasok.

Untuk itu, Menteri Bahlil memastikan,  harga pembelian ketiga komoditas tersebut tetap mengikuti mekanisme pasar.  Bahkan, untuk LPG, harga dari AS disebut lebih kompetitif dibandingkan negara lain. “Harga impor ketiga produk senilai 15 miliar dolar AS dari Amerika tersebut sama dengan harga pasar. Jadi tidak ada perbedaan apakah dari Middle East (Timur Tengah) atau dari Amerika. Itu harganya sama, bahkan justru untuk LPG dari Amerika jauh lebih murah ketimbang dari negara-negara yang lain,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebijakan itu tidak akan membebani negara ataupun mengganggu kedaulatan energi nasional. “Kita hanya mengganti saja. Jadi volume angka impornya sama, switch tempatnya aja yang berbeda. Jadi yakinlah bahwa kedaulatan bangsa ini tetap terjaga, saya tidak akan mungkin menjual bangsa sendiri,” katanya.

Kesepakatan perdagangan energi tersebut tertuang dalam Reciprocal Trade Agreement (RTA) atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang difinalisasi dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada Kamis (19/2/2026). Dalam kesepakatan itu, Indonesia berkomitmen meningkatkan pembelian produk energi dari AS dengan nilai indikatif hingga sekitar USD15 miliar.

Rinciannya meliputi impor LPG sekitar USD3,5 miliar, minyak mentah sekitar USD4,5 miliar, serta produk BBM olahan tertentu senilai sekitar USD7 miliar.

Selain itu, kerja sama juga mencakup komoditas energi lain sesuai kebutuhan domestik, termasuk batu bara metalurgi dan teknologi batu bara bersih. (Red)