Polhukam Dari Irigasi Menjadi Energi, PLTMH Blumbang Turut Menopang Kesejahteraan Warga

Dari Irigasi Menjadi Energi, PLTMH Blumbang Turut Menopang Kesejahteraan Warga

Manuver.co.id, Kulonprogo – Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Dusun Blumbang, Kalurahan Banjararum, Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi sumber listrik alternatif yang membantu menggerakkan ekonomi warga desa.

Sejak mulai beroperasi pada 2017, PLTMH Blumbang dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan rumah tangga hingga mendukung berbagai usaha kecil seperti pertukangan kayu, bengkel las, dan home industry.

Kepala Dukuh/Dusun Blumbang, Ratyono (55), mengatakan keberadaan PLTMH membawa perubahan besar bagi masyarakat yang sebelumnya sepenuhnya bergantung pada listrik PLN. “Alhamdulillah, di Dusun Blumbang ini ada irigasi yang mendukung pembangunan PLTMH. Pembangkit ini sangat membantu masyarakat, terutama pelaku home industry dan tukang kayu yang menggunakan listrik untuk usaha mereka,” ujar Ratyono saat ditemui di rumahnya, Selasa (12/5/2026).

Menurut dia, sebelum PLTMH beroperasi, biaya listrik warga dinilai cukup tinggi. “Sebelum ada mikrohidro, rata-rata warga membayar listrik PLN sekitar Rp50 ribu per bulan. Setelah ada mikrohidro, pengeluaran warga rata-rata tinggal separuhnya,” katanya.

Penghematan biaya listrik itu dirasakan lebih besar oleh warga yang menggunakan listrik untuk usaha produktif. Seperti istri Ratyono yang memanfaatkan listrik tenaga mikrohidro untuk membuat pesanan kue. Alat-alat membuat adonan kue bisa menelan ribuan watt listrik, tapi dengan memakai suplai PLTMH lebih stabil.

Apalagi pemanfaatan energi mikrohidro dari irigasi Selokan Mataram itu, pemerintah desa tidak mematok tarif tertentu seperti halnya pemakaian jaringan PLN. Hanya berupa iuran warga untuk perawatan turbin dan jaringan. Seluruh rumah di Blumbang rata-rata memasang dua instalasi MCB (Miniature Circuit Breaker) dari PLN dan PLTMH Blumbang. Jaringan sumber listrik ke rumah warga memang terpisah.

Salah satunya dirasakan Suprihatin (37), warga Dusun Blumbang yang menjalankan usaha bengkel las listrik. Dengan memanfaatkan listrik dari PLTMH dengan daya 2.200 VA (10 ampere), biaya operasional usahanya menjadi lebih ringan dibanding saat hanya menggunakan listrik PLN. “Kalau listrik lebih hemat, usaha saya juga lebih terbantu,” ujarnya.

Ratyono menjelaskan, saat awal beroperasi PLTMH hanya melayani sekitar 85 kepala keluarga. Kini jumlah pengguna terus bertambah menjadi sekitar 120 kepala keluarga atau hampir seluruh warga padukuhan. “Total di sini sekitar 129 kepala keluarga. Tinggal beberapa rumah saja yang belum teraliri karena lokasinya terpencil,” jelasnya.

Pengembangan jaringan listrik mikrohidro tersebut, lanjut Ratyono, tidak lepas dari semangat gotong royong warga.”Awalnya bantuan pemerintah hanya menyediakan 55 MCB. Karena kebutuhan warga bertambah, masyarakat kemudian urunan membeli kabel dan tambahan MCB agar semua warga bisa menikmati listrik,” katanya.

Saat ini jumlah MCB telah berkembang menjadi 84 unit yang dimanfaatkan bersama oleh warga.

Menurut Ratyono, pembangunan PLTMH merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. “Kalau mesinnya dari pemerintah pusat, sedangkan jaringan listrik dibangun melalui APBD provinsi sekitar tahun 2015. Setelah itu masyarakat ikut mengembangkan secara swadaya,” ujarnya.

Selain membantu ekonomi warga, PLTMH juga menjadi sumber listrik cadangan saat terjadi gangguan PLN, terutama ketika musim hujan. “Kalau musim hujan listrik PLN di sini sering mati karena banyak tiang listrik berada di lereng dan rawan tertimpa pohon tumbang. Alhamdulillah kami punya mikrohidro, jadi saat dusun lain padam, di sini sering masih menyala,” katanya.

Ratyono berharap PLTMH ke depan tidak hanya dimanfaatkan untuk listrik rumah tangga, tetapi juga mendukung ketahanan pangan melalui pompa air pertanian. “Ada sekitar 10 hektare sawah tadah hujan di bagian atas yang saat kemarau tidak bisa ditanami. Kalau air bisa dinaikkan menggunakan pompa listrik dari PLTMH, lahan itu bisa kembali produktif,” ujarnya.

Ia juga berharap satu unit mesin PLTMH yang saat ini belum optimal dapat segera diperbaiki tahun ini agar operasional pembangkit lebih stabil. “Kalau mesin satunya bisa diaktifkan lagi, operasional bisa bergantian sehingga peralatan lebih awet,” katanya.

Bagi warga Blumbang, PLTMH bukan semata pembangkit listrik desa, tetapi juga simbol gotong royong dan kemandirian energi berbasis potensi alam setempat. (Red)