Polhukam KAI Layani 17 Ribu Petani dan Pedagang di Lintas Rangkasbitung-Merak

KAI Layani 17 Ribu Petani dan Pedagang di Lintas Rangkasbitung-Merak

Manuver.co.id, Jakarta – Aktivitas di sejumlah stasiun lintas Rangkasbitung–Merak kerap dimulai sebelum matahari terbit. Para petani dan pedagang datang membawa karung hasil panen seperti cabai, bawang, tomat, dan sayuran segar untuk dibawa menuju pasar menggunakan layanan Kereta Petani dan Pedagang milik PT Kereta Api Indonesia (Persero).

Kereta tersebut kini menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat kecil. Bersama perjalanan kereta, hasil panen bergerak menuju pasar dengan harapan dagangan cepat terjual dan penghasilan yang diperoleh dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026) mengatakan, layanan tersebut dihadirkan sebagai bentuk dukungan transportasi yang dekat dengan kebutuhan petani dan pedagang pasar tradisional.

“Bagi petani dan pedagang kecil, selisih ongkos perjalanan sangat berarti. Saat biaya distribusi lebih ringan, mereka dapat membawa hasil panen lebih banyak, menjaga usaha tetap berjalan, dan mempertahankan penghasilan untuk keluarga,” ujar Anne.

KAI mencatat selama periode 1 Januari hingga 11 Mei 2026, layanan Kereta Petani dan Pedagang telah melayani sebanyak 17.867 pelanggan di lintas Merak–Rangkasbitung.

Layanan tersebut mulai beroperasi sejak 1 Desember 2025 dengan tarif Rp3.000 per perjalanan melalui skema Public Service Obligation (PSO). Kebijakan itu memberikan akses transportasi yang lebih terjangkau bagi masyarakat untuk menunjang aktivitas ekonomi harian.

Kereta Petani dan Pedagang melayani rute Merak–Rangkasbitung pulang pergi setiap hari dengan total 14 perjalanan, terdiri atas tujuh perjalanan dari Merak dan tujuh perjalanan dari Rangkasbitung.

Menurut Anne, keberadaan layanan ini turut mempercepat distribusi komoditas pertanian menuju pasar sehingga hasil panen dapat tiba dalam kondisi lebih segar dan memiliki nilai jual lebih baik.

“Ketika distribusi pangan berjalan lancar, manfaatnya dirasakan banyak pihak. Petani terbantu membawa hasil kebun, pedagang lebih mudah menjaga pasokan dagangan, dan masyarakat mendapatkan bahan pangan yang lebih segar di pasar,” jelasnya.

Untuk menggunakan layanan tersebut, petani dan pedagang melakukan registrasi di loket stasiun menggunakan KTP guna memperoleh kartu khusus pelanggan. KAI juga menyesuaikan fasilitas kereta dengan kebutuhan pelanggan yang membawa hasil pertanian dan barang dagangan. Kereta dilengkapi tempat duduk menyamping berkapasitas 73 pelanggan, pintu yang lebih lebar, serta ruang penyimpanan barang bawaan agar proses naik dan turun menjadi lebih mudah.

Anne menambahkan, layanan tersebut menunjukkan bagaimana transportasi publik dapat terhubung langsung dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, mulai dari aktivitas pertanian hingga perputaran ekonomi pasar tradisional.

“Di setiap perjalanan kereta ini ada hasil panen yang dirawat dengan kerja keras selama berbulan-bulan. Ada pedagang yang berangkat dini hari demi menjaga usahanya tetap hidup. Saat perjalanan menjadi lebih ringan dan distribusi semakin lancar, masyarakat dapat merasakan manfaat yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” tutup Anne. (red)