Jakarta – Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) mulai menunjukkan geliat signifikan setelah hampir dua tahun beroperasi. Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan, nilai transaksi di bursa tersebut telah menembus Rp78,5 miliar hingga pertengahan 2025.
Menurut Hanif, capaian itu menandai meningkatnya kesadaran dan partisipasi pelaku usaha dalam memperdagangkan sertifikat karbon di pasar domestik. Pemerintah kini berfokus memperluas jangkauan pasar karbon sekaligus memperkuat kredibilitasnya di tingkat global.
Untuk mencapai hal itu, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) telah menandatangani serangkaian kesepakatan dengan mitra internasional.
Kolaborasi tersebut, kata Hanif, bertujuan menciptakan pengakuan bersama terhadap standar dan metodologi pengurangan emisi serta meningkatkan transparansi dalam transaksi karbon.
“Kesepakatan ini memungkinkan pengakuan bersama atas standar dan metodologi pengurangan emisi, serta mendorong transparansi,” jelasnya.
Adapun beberapa lembaga global yang telah menjalin kemitraan dengan Indonesia antara lain Gold Standard Foundation (Mei 2025), Plan Vivo (September 2025), Global Carbon Council (September 2025), Puro Earth (Oktober 2025), Verra (Oktober 2025), serta Pemerintah Jepang pada forum COP29 tahun 2024.
Hanif menegaskan, kerja sama tersebut akan memperkuat posisi Indonesia di ekosistem perdagangan karbon global, terutama dalam momentum COP30 di Brasil.
Pemerintah juga menargetkan potensi transaksi senilai Rp16 triliun melalui kegiatan seller meet buyer yang digelar selama konferensi tersebut.
“Hal-hal tersebut di atas akan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem perdagangan karbon global pada gelaran COP30 di Brasil,” tegas Hanif.


















