Kementerian UMKM Pastikan Pelaku Usaha Kecil Jadi Bagian dari Ekosistem Smart Hospital

Manuver.co.id, Jakarta – Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (KemenUMKM) RI, Temmy Satya Permana, menegaskan pentingnya peran pelaku UMKM dalam memperkuat industri alat kesehatan (alkes) nasional. Hal itu disampaikannya saat sambutannya pada acara International Healthcare Engineering Fair (INAHEF) 2025 di Gedung SMESCO Indonesia, Jakarta, Kamis (23/10/2025).

Menurut Temmy Satya Permana, kolaborasi lintas kementerian antara Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjadi momentum strategis untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan melalui pemberdayaan UMKM.  “Kami mengapresiasi BSN dan Kemenkes atas inisiatif penyelenggaraan INAHEF 2025 ini sebagai momen penting memperkuat peran UMKM dalam mewujudkan kemandirian industri alat kesehatan nasional,” ujarnya di hadapan peserta yang terdiri atas pelaku usaha, asosiasi, akademisi, dan pejabat lintas kementerian.

Temmy mengungkapkan, dari total pelaku bisnis di Indonesia, 99,9 persen merupakan UMKM, dan sebagian di antaranya bergerak di sektor kesehatan. Berdasarkan data KemenKopUKM, tercatat 156.187 UMKM yang beroperasi di bidang kesehatan dan aktivitas sosial. Karena itu, menurutnya, pemerintah ingin memastikan pelaku UMKM dapat mengambil bagian dalam program pembangunan Smart Hospital nasional. “Pemerintah telah mengamanatkan 40 persen pengadaan barang dan jasa pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan BUMD dialokasikan untuk UMKM. Artinya, sektor kesehatan harus menjadi bagian dari ekosistem itu,” tutur Temmy.

Lebih lanjut, ia menyoroti capaian satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, di mana salah satu fokus utama adalah memperkuat sektor kesehatan yang inklusif dan mandiri. Di antaranya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CGK), revitalisasi fasilitas layanan kesehatan dasar (RFID), serta pemberantasan tuberkulosis. “Lebih dari 43 juta penduduk telah memanfaatkan layanan CGK ini. Ini bukti nyata Asta Cita keempat dan keenam Presiden, yakni meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia dan membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi,” jelas Temmy.

Sebagai langkah konkret, KemenKopUKM turut memfasilitasi 20 UMKM terpilih untuk menampilkan produk dan layanan berbasis inovasi kesehatan selama INAHEF 2025. Pameran ini diharapkan menjadi wadah interaksi antara pelaku industri besar dan UMKM, terutama dalam hal peningkatan standar, sertifikasi, serta daya saing produk dalam negeri.

Temmy menegaskan, penguatan kapasitas UMKM kesehatan tidak hanya berbicara tentang legalitas usaha, tetapi juga standarisasi dan sertifikasi agar produk nasional memenuhi kebutuhan rumah sakit berbasis teknologi. “Kami ingin memastikan UMKM menjadi bagian aktif dari rantai pasok Smart Hospital. Dengan begitu, industri kesehatan kita tidak hanya menyehatkan bangsa, tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat,” pungkasnya.

INAHEF 2025 merupakan pameran tahunan berskala internasional yang mempertemukan pemangku kepentingan di bidang rekayasa dan teknologi kesehatan. Tahun ini, kegiatan difokuskan pada tema “Smart Hospital and Sustainable Health Industry”, dengan menyoroti inovasi alat kesehatan berbasis Internet of Things (IoT), robotik medis, serta integrasi data layanan kesehatan.

Penyelenggaraan ini juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam implementasi transformasi teknologi kesehatan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan, sejalan dengan arah pembangunan nasional menuju kemandirian industri strategis dalam negeri. (red)