Manuver.co.id, Jakarta – Setiap hari, manusia berpacu dengan waktu, mengejar target, melawan tekanan, dan menumpuk rasa cemas tanpa sadar. Namun di balik kesibukan itu, jiwa sering kali memanggil untuk diperhatikan.
Ajakan itulah yang mengalun dari psikolog dan juga psikoterapis, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., saat membawakan sesi “Merawat Jiwa, Menjaga Harapan” dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2025 bersama Kementerian Kesehatan RI, Jumat (10/10/2025).
Dalam kesempatan itu, Anna mengajak peserta menengok ke dalam diri menyadari bahwa sehat jiwa bukan hanya soal bebas dari stres, tapi juga mampu berpikir jernih, merasa tenang, dan tetap berfungsi penuh makna dalam keseharian. “Ketika jiwa sehat, pikiran jadi lebih lancar, pekerjaan terasa ringan, dan hubungan dengan orang lain pun lebih hangat,” ujarnya.
Ketika Luka Tak Terlihat, Tapi Terasa
Menurut Anna, tidak semua luka tampak di permukaan. Ada luka psikologis yang bersembunyi di balik senyum, menyelinap di antara rutinitas. Kehilangan, tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, bahkan bencana alam, semua bisa meninggalkan bekas di hati. “Luka psikologis itu muncul ketika seseorang merasa tidak aman dan tidak nyaman setelah mengalami peristiwa yang menekan. Itu bisa berupa distress, burnout, overthinking, bahkan depresi yang membuat seseorang kehilangan semangat hidup,” ungkapnya.
Anna mengingatkan, siapa pun bisa mengalaminya. Tidak perlu menunggu krisis besar untuk mengakui bahwa jiwa kita sedang lelah. Karena setiap orang berhak untuk pulih.
Lanjut dia menjelaskan bahwa, sama seperti tubuh yang bisa terluka dan perlu dibalut, jiwa pun butuh pertolongan pertama. Itulah semangat dari program Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP), yang kini terus digencarkan oleh Kementerian Kesehatan bersama para psikolog klinis.
Anna, yang juga konsultan program ini, menjelaskan langkah sederhana yang bisa dilakukan siapa saja yaitu melalui 3M: Memperhatikan, Mendengarkan, dan Menghubungkan. “Memperhatikan, artinya peka terhadap perubahan pada diri sendiri atau orang lain, Mendengarkan, berarti hadir sepenuhnya tanpa menghakimi, dan Menghubungkan, yakni menuntun mereka yang terluka menuju bantuan profesional atau orang yang bisa dipercaya. Kadang, yang dibutuhkan bukan solusi instan, tapi kehadiran yang tulus. Satu telinga yang mau mendengar bisa menjadi pertolongan pertama yang menyelamatkan,” ucapnya.
Selain itu, merawat diri adalah tanggung jawab, bukan kemewahan. Bagi Anna, self-care bukan bentuk egoisme, melainkan cara kita menjaga keseimbangan agar tetap berdaya.
Ia membagi perawatan diri menjadi lima sisi: fisiologis, emosional, spiritual, profesional, dan sosial. Makan bergizi, tidur cukup, berolahraga, mengekspresikan perasaan, berdoa, menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, semua adalah bentuk kecil merawat diri. “Self-care bukan memanjakan diri. Ini cara kita bertanggung jawab atas kesehatan jiwa sendiri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, tidak perlu merasa malu jika membutuhkan bantuan psikolog atau psikiater. “Minta bantuan bukan berarti lemah. Justru itu tanda kita kuat dan peduli pada diri sendiri,” ujarnya.
Sebagai psikolog yang telah lama mendampingi pasien, mahasiswa, dan korban bencana, Anna paham betul bahwa pulih bukan perkara cepat, tapi bisa dimulai dari hal sederhana. Tarik napas perlahan, rasakan udara masuk dan keluar dari tubuh, sadari keberadaan diri. “Itu pun sudah langkah kecil menuju ketenangan. Bayangkan setiap hembusan napas sebagai cara melepaskan beban pikiran dan hati. Dengan begitu, kita sedang belajar merawat harapan,” pesannya.
Di akhir sesi, ratusan peserta yang hadir diingatkan kembali bahwa merawat jiwa bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan. “Sebab di balik ketenangan jiwa, tersimpan kekuatan untuk terus melangkah dan memberi makna bagi hidup sendiri maupun orang lain,” pungkasnya. (red)


















