BENGKULU – Apakah kamu merasa hidup serba pas-pasan, sering makan mi instan, dan ngopi sachet di indekos sempit? Tapi jika pengeluaranmu masih lebih dari Rp 20.305 per hari, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), kamu belum termasuk penduduk miskin di Indonesia.
BPS baru saja merilis data kemiskinan per Maret 2025. Dalam laporan tersebut, garis kemiskinan nasional ditetapkan sebesar Rp 609.160 per kapita per bulan, atau Rp 20.305 per hari. Artinya, orang dengan pengeluaran di bawah jumlah tersebut baru dikategorikan sebagai miskin secara statistik.
Angka ini bukan asal-asalan. Garis kemiskinan ditentukan berdasarkan kebutuhan dasar, terutama konsumsi makanan (seperti beras, telur, daging ayam, mi instan, hingga rokok kretek filter) dan nonmakanan (seperti perumahan, listrik, dan bensin).
“Yang dimaksud miskin adalah mereka yang pengeluarannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan nonmakanan,” jelas Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, Ateng Hartono, dalam konferensi pers Jumat (25/7/2025).
Meski garis kemiskinan terlihat rendah, faktanya masih ada 23,85 juta penduduk Indonesia yang hidup di bawahnya. Angka ini setara dengan 8,47 persen dari total populasi, meskipun sudah mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.
Lebih ekstrem lagi, ada 2,38 juta penduduk yang tergolong miskin ekstrem, yaitu mereka yang hanya mampu mengeluarkan kurang dari Rp 11.000 per hari – setara standar kemiskinan ekstrem global (US$2,15 PPP per hari).
Uniknya, dalam komponen pengeluaran, rokok kretek filter masih menjadi salah satu penyumbang besar garis kemiskinan, terutama di kalangan masyarakat miskin. BPS mencatat kontribusi rokok terhadap garis kemiskinan mencapai hampir 11 persen di perkotaan.
Hal ini mengundang keprihatinan sejumlah pihak, karena menunjukkan bahwa konsumsi rokok dianggap sebagai kebutuhan pokok oleh banyak keluarga miskin.
Jika kamu masih bisa jajan kopi susu seminggu sekali, langganan Spotify, atau nonton Netflix, besar kemungkinan kamu tidak masuk kategori miskin versi BPS. Tapi bukan berarti hidupmu sudah sejahtera.
Garis kemiskinan adalah ukuran minimum bertahan hidup, bukan indikator kenyamanan atau taraf hidup ideal. Banyak yang hidup “di atas kertas” tidak miskin, tapi tetap bergelut dengan tekanan ekonomi sehari-hari. (Red)






















